Preface

Slowly, I Let You into My Heart
Posted originally on the Archive of Our Own at https://archiveofourown.org/works/93496551.

Rating:
Mature
Archive Warnings:
Creator Chose Not To Use Archive Warnings, No Archive Warnings Apply
Category:
M/M
Fandom:
SixTONES (Band)
Relationship:
Matsumura Hokuto/Morimoto Shintarou
Characters:
Matsumura Hokuto, Morimoto Shintarou, Kyomoto Taiga, Tanaka Juri, Jesse Lewis (SixTONES), Kouchi Yugo
Additional Tags:
Mysophobia, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), Childhood Trauma, slow burn love, Taiga's a supportive bestfriend, HokuShin selalu di hati (uhuk uhuk)
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published: 2026-09-29 Words: 2,045 Chapters: 1/1

Slowly, I Let You into My Heart

Summary

Bagi Matsumura Hokuto, seorang penerjemah buku bahasa Inggris yang mengurung diri dari dunia luar, sentuhan fisik adalah kotoran, kuman, dan pemicu ingatan kelam dari trauma masa kecil yang terus membusukkan jiwanya. Sarung tangan katun putih dan aroma disinfektan adalah benteng pertahanan terakhir yang selalu melindungi dirinya.

Atas desakan sahabat karibnya, Kyomoto Taiga, Hokuto akhirnya menyerahkan diri ke Departemen Neuropsikiatri Rumah Sakit Universitas Tokyo. Di sana, ia bertemu dengan Morimoto Shintaro, seorang psikolog berwibawa dengan tatapan tajam dan aura dominan yang sanggup menelanjangi seluruh ketakutannya dalam sekali tatap.

Shintaro menawarkan metode terapi pemaparan bertahap berupa sepuluh tingkatan kontak fisik untuk menyembuhkan fobia Hokuto. Sembilan langkah ditulis sendiri oleh Hokuto, sedangkan langkah kesepuluh yang terlarang sepenuhnya menjadi hak mutlak Shintaro.

Di antara rasa takut yang melumpuhkan dan gejolak gairah asing yang lama terpendam, seberapa jauh Hokuto sanggup melangkah untuk membiarkan Shintaro menyembuhkan sekaligus menguasai tubuh dan jiwanya?

Notes

Ff ini terinspirasi dari manga Boys Love "Ten Count" karangan Takarai Rihito-sensei. Lagi ter-HokuShin HokuShin dan bingung mau nulis cerita genre apa, akhirnya author memutuskan nulis ff ini deh hihihi. Selamat membaca, minna-san~!

Slowly, I Let You into My Heart

Bau alkohol isopropil 70 persen dan gel antiseptik adalah aroma khas yang mendefinisikan ruang hidup seorang Matsumura Hokuto. Di dalam kamar apartemennya yang terletak di kawasan tenang dan asri Edogawa, tidak ada debu yang dibiarkan melayang lebih dari sedetik. Permukaan meja kayu mahoni tersapu bersih tanpa noda, lantai kayu mengkilap dipoles cairan anti-bakteri setiap pagi, dan seluruh udara disaring oleh dua unit pemurni udara bernilai tinggi yang berdengung halus tanpa henti.

Jemari Hokuto terbungkus sarung tangan kain katun berwarna putih bersih, mengetuk tombol-tombol keyboard mekanisnya dengan ritme konstan. Di hadapannya terdapat layar komputer berukuran besar menampilkan draft novel sastra Inggris sedang ia terjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

“He pressed his bare palm against her flushed cheek, feeling the suffocating heat of her skin…”

Hokuto menghentikan ketukannya. Tenggorokannya mendadak terasa menyempit. Kata-kata 'bare palm' dan 'heat of skin' di layar komputer terasa seperti torehan kasar pemicu keirngat dingin dan rasa mual di perutnya. Sebagai seorang penerjemah buku bahasa Inggris paruh waktu yang cukup disegani oleh penerbit-penerbit besar di Tokyo, Hokuto lihai dalam menerjemahkan istilah-istilah sastra Inggris rumit menjadi mudah dipahami pembaca warga lokal. Namun, setiap kali ia harus menerjemahkan deskripsi tentang sentuhan fisik, kulit telanjang, atau kehangatan tubuh manusia… seluruh persendiannya menegang kaku.

Bagi Hokuto, kehangatan manusia bukanlah simbol kasih sayang. Kehangatan manusia berupa sentuhan fisik adalah wadah bagi bakteri, peluh, sebum, mikroba, dan kotoran menjijikkan yang siap mengkontaminasi jiwanya.

Ia menarik napas panjang dan menurunkan pandangan ke jemarinya sendiri. Di balik sarung tangan putih itu, kulit tangannya berwarna merah keunguan, terkelupas, dan retak-retak hingga sering mengeluarkan darah. Efek dari kebiasaannya mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik dan air panas lebih dari lima puluh kali dalam sehari.

Semua obsesi berlebihan yang dialami Hokuto tidak serta-merta lahir tanpa alasan. Bayangan masa kecilnya selalu menghantui setiap kali ia menutup mata di kegelapan. Saat usianya baru menginjak sembilan tahun, seorang pengasuh pria berumur 40 tahun yang dipercaya keluarganya melakukan tindakan melampaui batas di ruang belajar dengan penerangan remang. Jemari pria dewasa terasa lembap, tebal, dan berbau keringat busuk itu merayap masuk ke dalam atasan pakaian Hokuto, membelai diselingi menekan kulitnya dengan niat seksual implisit. Sentuhan asing yang penuh paksaan itu disertai bisikan beracun,

“ini rahasia kita berdua. Tubuhmu sangat indah, Hokuto-kun.”

Sensasi gesekan kulit berminyak, bau napas orang dewasa yang memburu, serta perasaan tak berdaya ketika hak pribadinya dilanggar secara seksual membekas permanen di pikirannya. Sejak hari itu, otak Hokuto mengasosiasikan seluruh bentuk kontak fisik sebagai puncak kontaminasi yang membusukkan jiwa. Manusia adalah sumber kotoran dan sentuhan adalah racun.

Suara bel pintu apartemennya bergema memecah keheningan dan memutus ingatan kelam tersebut. Hokuto terlonjak pelan. Ia berdiri sambil memastikan maskernya terpasang rapat, lalu berjalan menuju pintu depan. Melalui interkom, terlihat sosok yang sangat familier. Kyomoto Taiga, sahabat karibnya sejak masa SMP bekerja sebagai editor senior di perusahaan penerbitan, yang sering memberi Hokuto proyek penerjemahan buku.

Hokuto membuka pintu sedikit, menyemprotkan cairan disinfektan ke udara di depan ambang pintu sebelum membiarkan Taiga masuk. Taiga hanya bisa mendesah pasrah. Ia sudah sangat terbiasa dengan ritual "pensterilan" dilakukan Hokuto.

"Hokuto, kurasa fobiamu tambah parah," ujar Taiga begitu melangkah masuk, mengganti sepatu dipakainya dengan sandal rumahan yang tersampir di depan area pintu masuk. Manik mata cokelat gelapnya tertuju pada sarung tangan putih Hokuto yang terlihat menempel rapat di tangan pria 31 tahun itu. Taiga meletakkan sekeranjang buah terbungkus plastik kedap udara di atas meja ruang tamu.

"Kau bahkan tidak keluar rumah selama tiga minggu terakhir. Naskah terjemahan novel Victorian itu bisa saja kau kirim lewat surel, tapi kesehatanmu... lihat tanganmu."

"Aku baik-baik saja, Taiga!" sergah Hokuto. Ia berdiri berjarak dua meter dari Taiga, tangannya bertaut cemas di depan dada. "Lingkungan luar terlalu berbahaya. Musim ini banyak virus, dan orang-orang di kereta tidak telaten menjaga kebersihan mereka," tuturnya gemetar ketakutan.

Taiga mencoba mendekati sahabatnya dengan melewati satu petak lantai, membuat Hokuto refleks mundur satu langkah. Editor berumur 32 tahun itu segera menghentikan langkahnya, menatap Hokuto dengan tatapan iba yang sangat dibenci Hokuto, namun sekaligus dipenuhi kepedulian tulus.

"Ini bukan lagi soal virus atau musim penyakit, Hokuto. Ini trauma masa kecilmu yang terus memakanmu hidup-hidup," ungkap Taiga. Ia merogoh saku jas untuk mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna putih dengan logo sebuah rumah sakit ternama, dan meletakkannya di ujung meja tanpa menyentuh barang-barang lain. "Aku sudah berkonsultasi dengan psikolog kenalan keluargaku. Kau harus menemui orang ini."

Hokuto melirik amplop itu dari kejauhan. "Aku tidak gila. Aku hanya... menjaga diriku tetap bersih."

"Mencuci tangan sampai berdarah setiap hari bukan 'menjaga kebersihan', Hokuto," potong Taiga lirih. "Di dalam amplop itu ada surat rujukan khusus untuk Departemen Neuropsikiatri di Rumah Sakit Universitas Tokyo. Psikolog yang akan menangani kasusmu bernama Morimoto Shintaro. Dia ahli dalam menangani Obsessive-Compulsive Disorder berat dan fobia akibat trauma psikologis. Aku sudah mendaftarkan namamu untuk janji temu besok pagi."

Hokuto menggeleng cepat. "Aku tidak mau pergi ke rumah sakit. Rumah sakit adalah tempat bersarangnya jutaan kuman dan orang sakit—"

"Hokuto!" tiba-tiba suara Taiga meninggi, memotong kepanikan Hokuto. "Jika kau terus seperti ini, kau tidak akan pernah bisa hidup sebagai manusia seutuhnya. Kau terperangkap di dalam penjara yang kau buat sendiri. Tolong... lakukan ini demi dirimu sendiri. Pergilah menemui Morimoto-sensei. Sekali saja."

Melihat mata Taiga berkaca-kaca yang amat tampak mengkhawatirkan kondisi dirinya, pertahanan Hokuto akhirnya melunak. Ia menunduk dalam serta mengangguk perlahan dengan sangat terpaksa.

Keesokan harinya, udara pagi Tokyo terasa menusuk tulang. Hokuto menembus kerumunan distrik Bunkyo dengan perlindungan penuh—mantel panjang berwarna abu-abu gelap tertutup rapat hingga ke leher, masker medis tebal, kacamata frame bulat, topi beanie yang menutupi rambut hitam pendek wavy-nya, dan dua lapis sarung tangan. Setiap kali seseorang berjalan melintas terlalu dekat atau secara tidak sengaja menyenggol lengan mantelnya, jantung Hokuto berdegup kencang seolah-olah bom waktu baru saja diaktifkan di dalam dadanya.

Bangunan megah Rumah Sakit Universitas Tokyo menjulang di hadapannya. Aroma antiseptik medis yang tajam menyeruak begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis. Hokuto mencengkeram tali tas selempangnya erat-erat, menaiki lift khusus menuju lantai empat. Tepatnya menuju lorong Departemen Neuropsikiatri memfasilitasi poliklinik psikiatri dan neurologi, di mana suasana di sana relatif lebih sunyi daripada bagian poliklinik umum.

Ia menyusuri lorong berlantai marmer putih tampak lengang dan menemukan pintu kayu tebal dengan plat kuning bertuliskan: Ruang Konseling Psikologi – Morimoto Shintaro.

Hokuto menarik napas panjang, menetralkan rasa mual yang terus bergejolak di dalam perutnya. Kemudian, ia memberanikan diri mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali.

"Masuk."

Suara ramah, dalam, dan berwibawa dengan nada hangat bergema dari dalam ruangan. Hokuto memutar gagang pintu yang mendadak terasa dingin—bahkan di balik kain sarung tangannya—dan mendorongnya perlahan.

Ruangan itu sangat berbeda dari imajiner Hokuto. Tidak ada kesan rumah sakit kaku serba putih mencekam seperti drama dan film genre medis ditontonnya. Ruangan itu didominasi oleh rak-rak buku kayu penuh dengan literatur tebal, pencahayaan hangat alami bersumber dari jendela kaca, aroma lembut teh hijau dari pewangi ruangan, dan sebuah sofa kulit cokelat tua tampak empuk nan nyaman.

Namun, fokus Hokuto seketika terkunci pada pria yang berdiri di dekat jendela besar di ujung ruangan.

Pria itu berbalik, dialah Morimoto Shintaro.

Shintaro mengenakan jas putih tidak dikancingkan yang melapisi kemeja hitam dan celana kain hitam yang pas di tubuh tinggi tegapnya. Bahu lebar, dada bidang, dan posturnya memancarkan aura dominan alamiah sangat kuat namun tenang. Parasnya tampan dengan garis rahang tegas, tetapi yang paling menonjol adalah sepasang matanya—gelap, tajam, dan seolah sanggup menguliti setiap rahasia terkecil disembunyikan Hokuto dalam sekali pandang.

"Matsumura Hokuto-san?" Shintaro menyebut namanya dengan nada sopan, melangkah mundur dari jendela sembari berjalan menuju meja kerjanya. Setiap gerakannya terasa mantap dan percaya diri. "Silakan masuk dan tutup pintunya."

Hokuto melangkah ragu, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, memasang sikap tubuh waspada berpaduan tidak berani mendekati si psikolog berambut wolf-cut hitam lebih jauh.

Shintaro memperhatikan setiap detail dari penampilan Hokuto—topi yang ditarik rendah, masker menutupi sebagian besar wajahnya, kacamata berlensa bening dengan bingkai bulat hitam, mantel tertutup rapat, dan yang paling utama, posisi kedua tangan Hokuto yang terkepal erat di depan dada dengan sarung tangan kain putihnya.

"Kau boleh duduk di sofa itu," kata Shintaro sambil menunjuk sofa kulit di sebelahnya. Sebelum Hokuto sempat membendung kepanikannya, Shintaro menambahkan dengan nada sangat tenang, "Jangan khawatir. Sofa itu baru saja didesinfeksi dengan sinar UV dan alkohol medis sepuluh menit yang lalu sebelum kau datang. Tidak ada bakteri tertinggal di sana."

Hokuto membeku. Bagaimana mungkin pria ini bisa menebak jalan pikirannya dengan begitu akurat hanya dalam hitungan detik? Dengan gerakan kaku Hokuto mendudukkan dirinya di ujung sofa, menjaga tubuhnya tetap tegap agar tidak menyentuh bagian sandaran sofa.

Shintaro menarik kursi kerja, duduk tepat di hadapan Hokuto tanpa halangan meja. Jarak mereka kini hanya terpaut kurang dari dua meter. Pria bertubuh tegap itu menyilangkan kaki jenjangnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil terus mengamati Hokuto.

"Kyomoto-san sudah mengirimkan lembar latar belakangmu dan riwayat medis awal," buka Shintaro, suaranya bergema halus di ruangan konsultasi itu. "Penerjemah buku bahasa Inggris, tinggal menyendiri, menghindari kontak fisik total, dan mengalami gejolak fobia kebersihan yang parah selama bertahun-tahun."

Hokuto menunduk sambil menatap lantai marmer. "Saya hanya menyukai kebersihan, sensei…"

"Bohong," potong Shintaro cepat tanpa nada meremehkan, melainkan kepastian mutlak. Hokuto terperanjat, kepalanya otomatis terangkat menatap Shintaro.

Shintaro menyunggingkan senyuman tipis. "Orang yang menyukai kebersihan tidak akan mencuci tangannya sampai kulitnya terkelupas dan retak di balik sarung tangan itu. Kau bukan menyukai kebersihan, Matsumura-san. Kau sedang melarikan diri dari ketakutan luar biasa yang bersumber dari dalam dirimu sendiri."

Tatapan Shintaro begitu intens membuat Hokuto merasa ditelanjangi. Aura keberadaan Shintaro yang mengintimidasi mulai memenuhi ruangan, membuat napas Hokuto perlahan menjadi lebih pendek.

"Ketakutan akan sentuhan... dan ketakutan akan kontaminasi tubuh," lanjut Shintaro. Suaranya merendah seolah menembus pertahanan mental Hokuto. "Biasanya, fobia se-ekstrem itu tidak muncul secara acak. Ada trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Sesuatu melanggar batas dirimu saat kau belum mampu melawan... benar?"

Dada Hokuto berdesir hebat. Bayangan jari-jari berbau keringat di masa kecilnya kembali terbayang di dalam kepala, membuat kepalan tangannya yang terbungkus sarung tangan mulai gemetar hebat di atas paha. Rasa mual meluap naik hingga mencapai tenggorokan.

"Cukup..." bisik Hokuto lirih. "Saya... saya datang ke sini hanya karena Taiga yang meminta. Saya tidak berpikir terapi ini akan berguna."

Hokuto bergerak berdiri, berniat untuk melarikan diri dari ruangan konseling yang mendadak terasa begitu sempit juga panas. Namun, sebelum ia sempat mengambil satu langkah menuju pintu keluar, Shintaro sudah berdiri duluan lebih cepat dan memotong jalan Hokuto.

Postur Shintaro yang tinggi besar—namun lebih rendah dua sentimeter dari Hokuto—kini mengurung si penerjemah sepenuhnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Hokuto bisa merasakan radiasi gelombang panas terpancar dari tubuh pria di hadapannya, serta aroma lembut woody yang maskulin.

"Kau mau lari lagi?" tanya Shintaro sambil menyejajarkan pandangan mereka. "Kembali ke apartemenmu yang sepi, mengurung diri, dan membiarkan ketakutan itu menggerogoti sisa hidupmu?"

"Jangan menghalangi jalan saya dan jangan sentuh saya, Morimoto-sensei," cicit Hokuto. Suaranya bergetar antara marah bercampur ketakutan.

"Aku sama sekali tidak menyentuhmu. Dan aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja, Matsumura-san," sahut Shintaro apa adanya. Sengaja menunjukkan kedua tangannya yang terbuka di udara, hanya beberapa sentimeter dari bahu Hokuto tanpa menyentuhnya sedikit pun. "Tapi aku bisa membantumu sembuh dengan satu syarat," tawarnya sungguh-sungguh.

Hokuto menatap sepasang mata gelap Shintaro berkilat berbahaya. Sebuah kombinasi antara dorongan empati profesional dan hasrat tersembunyi yang belum bisa Hokuto artikan.

"Syarat apa?" tanya Hokuto seraya menahan napas.

Shintaro melangkah satu senti lebih dekat, memangkas sisa udara di antara mereka. Hokuto bisa merasakan hembusan napas hangat Shintaro menyapu wajahnya. "Kita akan melakukan metode terapi pemaparan bertahap," bisik Shintaro dengan suara rendah yang menggetarkan dada Hokuto.

"Ada sepuluh tingkatan kontak yang harus kau selesaikan bersamaku. Kau yang menentukan sembilan daftar pertamanya. Mulai dari hal teringan yang sanggup kau toleransi, hingga hal paling kau takuti,” lanjutnya.

"Lalu... tingkatan kesepuluh?" tanya Hokuto polos, terhipnotis oleh kelembutan cara bicara Shintaro.

Shintaro tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh intrik yang membuat bulu kuduk Hokuto berdiri.

"Tingkatan kesepuluh adalah hakku," jawab Shintaro tegas. "Kau harus membiarkanku menentukan apa yang akan kita lakukan di tahap akhir... tanpa bantahan apa pun."

Mata Hokuto melebar di balik kacamata frame bulatnya. Menurutnya, ada sesuatu yang sangat berbahaya dalam tawaran pria yang baru saja dikenalnya ini. Sebuah janji penyembuhan dibungkus dengan ketundukan dan bayang-bayang eksplorasi sensual yang paling ditakuti sekaligus dipendam oleh tubuhnya. Namun, di hadapan Morimoto Shintaro… untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Matsumura Hokuto merasa tidak sanggup untuk melangkah mundur.

Bersambung

Afterword

Please drop by the Archive and comment to let the creator know if you enjoyed their work!